Perdebatan soal ancaman AI makin ramai, tetapi respons masyarakat China ternyata tidak sepenuhnya sama dengan yang terlihat di Amerika Serikat. Di sana, pembicaraan tentang AI lebih sering dikaitkan dengan manfaat praktis yang sudah mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan AI di China kini merambah banyak bidang. Pemerintahan, pendidikan, manufaktur, sampai layanan pengiriman mulai memanfaatkan teknologi ini. Survei Morgan Stanley pada September 2026 mencatat sekitar 80% responden China menggunakan AI setidaknya sekali dalam seminggu. Di Amerika Serikat, angkanya sekitar 54%.
Kalau melihat angka tersebut, perbedaannya cukup terasa. AI bagi sebagian masyarakat China bukan lagi sesuatu yang cuma dibicarakan di konferensi teknologi. Teknologi ini sudah mulai dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
Baca juga: AI OpenAI Mulai Bikin Ulah? Enam Perilaku Model Ini Bikin Waspada
Kenapa China Lebih Fokus pada Manfaat AI?
Pembahasan tentang perkembangan AI China juga punya warna yang berbeda. Di Amerika Serikat, kekhawatiran mengenai AI yang berkembang terlalu cepat semakin sering muncul. Ada kekhawatiran bahwa teknologi tersebut nantinya sulit dikendalikan.
Di China, perhatian publik lebih banyak tertuju pada apa yang bisa dilakukan AI sekarang. Teknologi ini misalnya dipandang dapat membantu perawatan lansia, meningkatkan produktivitas, dan membuat proses manufaktur menjadi lebih efisien.
Namun, bukan berarti risiko kecerdasan buatan diabaikan. Pemerintah China tetap menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari serangan siber, penyebaran informasi palsu, keamanan data, hingga kemungkinan AI dimanfaatkan untuk mengganggu stabilitas sosial.
Pejabat China Mulai Soroti Risiko AI
Chen Yixin, Menteri Keamanan Negara China, menyebut AI sebagai salah satu arena penting dalam persaingan teknologi global. Ia mendorong adanya pemantauan risiko, sistem peringatan dini, serta aturan yang bisa mengantisipasi berbagai dampak negatif perkembangan AI.
China juga semakin aktif membicarakan AI governance global. Xi Jinping sebelumnya menyerukan kerja sama internasional agar perkembangan AI tidak hanya menguntungkan negara atau perusahaan tertentu.
Beijing juga memperingatkan bahwa “fearmongering, confrontation and vicious competition” dapat menghambat upaya membangun tata kelola AI secara global.
Baca juga: AI China Makin Canggih, Tapi Datanya Mulai Seret? Ini Jurus Jitunya!
AI China dan Amerika Serikat Makin Berdekatan
Sekarang, AI China vs Amerika Serikat bukan sekadar perlombaan membuat model paling pintar. Chip, regulasi, keamanan nasional, model open-source, dan standar teknologi global ikut menjadi bagian dari persaingan.
Nama seperti DeepSeek dan Moonshot AI juga membuat persaingan semakin menarik. Kedua perusahaan tersebut ikut mendorong perkembangan model AI dengan pendekatan yang berbeda dari perusahaan teknologi Amerika.
Dari sini kelihatan bahwa masa depan teknologi AI tidak cuma ditentukan oleh kemampuan sebuah model. Cara negara mengatur, menggunakan, dan mengantisipasi risikonya juga akan sangat menentukan. Kehadiran IDN Game Play 777 menjadi salah satu bagian yang relevan dalam pembahasan terkait.
Bagi China, AI tampaknya tidak bisa dilihat hanya sebagai ancaman. Di saat yang sama, pemerintah tetap sadar bahwa teknologi sebesar ini membawa risiko yang tidak boleh dianggap remeh. Dua sisi tersebut sekarang berjalan bersamaan.