Selama seperempat abad, keluarga Xie Qingshuai hidup dalam teka-teki. Anak kesayangan mereka lenyap begitu saja pada Januari 1999, saat ibunya hanya pergi sebentar ke pasar di Kota Xingtai, China. Sejak saat itu, dunia mereka seperti berhenti berputar.
Perjuangan panjang pun dimulai. Dari menyisir kampung halaman hingga merambah ke provinsi-provinsi tetangga, tak ada lelah dalam kamus keluarga ini. Pada tahun 2022, mereka bahkan nekat memasang hadiah fantastis, mulai Rp 528 juta hingga Rp 2 miliar bagi siapa pun yang bisa membawa pulang Xie. Namun, usaha itu masih belum membuahkan hasil.
Baca juga: AI Bikin Iklan Pendingin “Air Kencing” dan Jadi Senjata Politik, Kok Bisa?
Hingga akhirnya, sebuah teknologi yang sering kita anggap futuristik justru menjadi pahlawan. Bukan dari seorang detektif atau saksi mata, melainkan dari sistem kecerdasan buatan (AI) yang menjadi titik terang di tengah gelapnya pencarian.
Pada November 2023, kepolisian di Hebei mengandalkan sebuah perangkat lunak pengenalan wajah mutakhir buatan perusahaan AI asal Beijing. Hasilnya? Xie Qingshuai yang kini telah berusia 25 tahun akhirnya terlacak. Ia ditemukan tinggal di Kota Chengdu, bekerja di bidang renovasi interior, dan selama ini tidak tahu bahwa keluarganya masih mencarinya.
Pertemuan itu seperti adegan film. Sang ayah, Xie Kefeng, akhirnya bisa memeluk putranya setelah 25 tahun. “Saya telah menunggu hari ini selama seperempat abad,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Apa Rahasia di Balik Teknologi Ini?
Ini bukan sekadar face recognition biasa. Teknologi yang dipakai bernama “cross-age face comparison” atau perbandingan wajah lintas usia. Kehebatan AI ini adalah kemampuannya untuk membaca hubungan genetik dari fitur wajah antar anggota keluarga.
Artinya, meskipun foto bayi Xie sudah basi dan penampilannya berubah drastis jadi dewasa, algoritma ini tetap bisa menemukan pola kemiripan yang nggak kasat mata oleh manusia biasa. Ini adalah solusi jenius untuk kasus orang hilang yang udah bertahun-tahun, di mana foto lama udah nggak relevan lagi.
Baca juga: Ketika AI Jadi “Hacker Bayangan”: Satu Negara Lumpuh dalam 4 Hari Tanpa Sentuhan Manusia
Kisah ini bener-bener ngebuktiin kalau teknologi bukan cuma soal robot atau gadget canggih. Di tangan yang tepat, AI bisa menjadi jembatan harapan yang menyatukan kembali keluarga yang terpisah.
Selain itu, kasus ini juga makin menguatkan bahwa perkembangan [AI for social good] dan [teknologi pengenalan wajah] punya dampak nyata di kehidupan manusia. Sebelumnya, proyek-proyek amal serupa juga udah mulai memanfaatkan AI buat misi kemanusiaan kayak mencari orang hilang.
Jadi, buat lo yang masih skeptis sama AI, kisah Xie ini adalah bukti nyata bahwa masa depan teknologi yang kita bayangkan ternyata udah hadir sekarang. Dan kabar baiknya, teknologi ini nggak cuma buat kasus kriminal, tapi juga buat hal-hal yang menyentuh hati kayak reuni keluarga.
Baca juga: Paus Leo XIV: AI Boleh Canggih, Tapi Jangan Sampe Kalahkan Hati Nurani Manusia!