Jujur, beberapa bulan terakhir ini feed media sosial gue penuh banget sama narasi “AI bakal jadi tambang emas karier anak muda”. Sampai-sampai temen gue ada yang ikut bootcamp cloud computing gara-gara FOMO. Tapi pas gue baca analisis terbaru soal data center AI di Inggris, ekspektasi gue langsung turun satu level.
Proyeksinya Beda Jauh, Lho
Sebuah lembaga riset ekonomi, Verdant, baru aja ngerilis hitungan yang bikin banyak orang ngernyit. Mereka bilang, pembangunan data center AI di Inggris nggak akan nyiptain lapangan kerja permanen sebanyak yang digembar-gemborkan industri teknologi.
Angkanya? Industri lewat asosiasi dagang techUK optimis bakal ada sekitar 40.200 pekerjaan permanen pada 2035. Tapi Verdant cuma memprediksi sekitar 10.400 lapangan kerja — sekitar seperempatnya. Selisihnya bukan main, kan?
Baca juga: Silver Lake Caper Dua Perusahaan Software, Nilainya Tembus Rp188 Triliun
Kenapa Beda? Ini Akarnya
Ternyata masalahnya ada di cara ngitung. techUK pakai asumsi 8,5 pekerjaan per megawatt. Menurut Verdant, angka itu diambil dari data center lama yang ukurannya lebih kecil dan butuh lebih banyak staf. Padahal data center zaman sekarang jauh lebih besar dan otomatis — kebutuhannya cuma sekitar 1,2 pekerjaan per megawatt.
Gue sempat mikir, “Berarti makin canggih, makin sedikit yang dibutuhin ya?” Dan iya, itu memang logikanya. Semakin otomatis sebuah fasilitas, semakin sedikit orang yang perlu standby di dalamnya.
Pemerintah dan techUK Nggak Terima
Tentu aja pihak lain nggak tinggal diam. techUK bilang metodologi mereka udah transparan dan pakai data industri terbaik. Sementara juru bicara pemerintah Inggris menyebut laporan ini “menyesatkan” karena dianggap menyamakan kapasitas listrik dengan konsumsi aktual.
“Laporan ini mengandalkan metrik pekerjaan-per-megawatt yang sangat menyesatkan, membuat perbandingan palsu dengan rumah sakit dan sekolah,” ujarnya.
Tapi Jangan Salah, Peluangnya Tetap Ada
Nah, ini bagian yang bikin gue agak optimis lagi. Meski jumlah kursinya nggak sebanyak klaim awal, jenis keahlian yang dicari justru bergeser. Analisis dari Randstad nemuin permintaan teknisi robotik, insinyur HVAC, dan teknisi otomasi industri naik drastis antara 2022 sampai 2026.
Bahkan CEO Randstad sampai blak-blakan bilang kalau jalur kuliah konvensional udah bukan satu-satunya jalan. Buat gue pribadi, ini pengingat kalau karier di era AI bukan soal “berapa banyak lowongan”, tapi “seberapa relevan skill kita”.
Jadi, buat kamu yang lagi galau mau ambil jalur mana — tren breakdown data center AI ini bilang satu hal: spesialisasi teknis tetap juara. Asal kamu mau terus belajar dan adaptasi, peluangnya masih terbuka lebar.
Baca juga: Amazon Rekrut Veteran Siber Kevin Mandia ke Jajaran Direksi, Sinyal Serius Hadapi Ancaman AI